Risalah Nelayan

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Samasta Magazine. Sudah bertahun bahkan berturun-turun, hamparan biru menjadi kolam penghidupan. Setiap pagi buta sampai menjelang petang, berduyun perahu-perahu menari di atas gelombang. Terik mentari menjadi sarapan, dan tuan camar menjadi kompasnya pulang. Perahu-perahu lantas menepi, di kala alas perahu cukup terisi hasil. Hasil sebesar “cukup” untuk menopang hidup anak-istri esok hari.

Begitulah setidaknya para nelayan kerap digambarkan pada sepenggal puisi. Di mata banyak orang, seperti para penulisnya, keseharian nelayan-nelayan di Indonesia adalah kisah kehidupan rakyat kecil tepi pantai. Memang, sampai kini masih terlihat, bawah potret hidup para nelayan masih dalam bingkai kesederhanaan, meski hamparan laut begitu penuh dengan kekayaan.

Memang, sampai kini masih terlihat, bawah potret hidup para nelayan masih dalam bingkai kesederhanaan.

Demikian nasib hidup para nelayan di kepulauan Indonesia ini, sampai kini pun masih kerap menjadi bahan perbincangan. Mungkin benar jika dikatakan, kehidupan para nelayan dapat menjadi ukuran seberapa jauh derap pembangunan. Bagi negara kepulauan sebesar Indonesia, kesejahteraan nelayan tidak saja kunci mengatasi kelaparan, tapi juga memastikan keberlanjutan pengelolaan sumber daya ikan, penyediaan lapangan pekerjaan, keberlanjutan budaya luhur kebaharian bangsa, termasuk memperkuat kedaulatan Indonesia di laut.

Laut Indonesia yang kayanya begitu dahsyat, tentunya memang dapat menjadi tumpuan hidup rakyat. Rasanya tepat jika pemerintah saat ini memekikkan lagi gairah kelautan Indonesia. Bangsa ini memang perlu menyadari sepenuhnya, bahwa dirinya merupkan cucu cicit para pelaut yang mewarisi sejarah keberhasilan dan kebesaran bangsa bahari dan negara maritim. Jadi, ketika saat ini arah pembangunan bertujuan mengembalikan lagi kejayaan maritim, menjadikan Indonesia poros maritim dunia, itu luar biasa.

Dan sebagai rakyat, tugas kita yang paling bijaksana adalah mendukung, turut berkaya dan mau menopang, serta memberi sumbangsih demi kelancaran mencapai tujuan ini. Memang tidak mudah, dan tentu perlu waktu. Menjadikan bangsa ini sekuat dan sebesar itu, pastinya tidak semudah membalik telapak tangan. Karena itu, jangan kita hanya berpangku tangan, mediskreditkan gagasan pembangunan ini, atau mengecilkan serta mengucilkan langkah-langkah pemerintah dalam menjalankan pembangunannya.

Dan dengan adanya cita-cita pemerintah itu, nelayan seharusnya mendapat juga angin segarnya. Sebab nelayan adalah salah satu subjek yang inti dalam pembangunan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Nelayan, yang sehari-hari bergelut dengan laut, mustinya mereka juga mendapatkan tempat dalam pengelolaan kemaritiman.

Ya, sebagai sebuah bangsa dengan sejarah kemaritiman yang gemilang, prestasi keteladanan diplomasi kelautan yang andal, serta kelimpahan kekayaan alam darat-laut-udara di masa kini, dengan menjadi poros maritim sepantasnya bukanlah mimpi di siang bolong. Bangsa Indonesia harus percaya, bahwa inilah takdir Indonesia yang hendak kita jemput.

Sebagai negara yang dikelilingi laut, hampir semua wilayah di Indonesia memiliki lautan. Mereka yang hidupnya dekat dengan laut, biasanya akan mencukupi hidup dari laut pula. Itulah masyarakat nelayan. Di era pemerintahan presiden baru yang memiliki visi besar dalam kemaritiman, masyarakat nelayan kecil tentunya mengharapkan juga akan mendapat buah dari visi tersebut.

Perlahan namun pasti, pastinya semua akan ditata sebaik-baiknya oleh pemerintah. Dan mudah-mudahan masyarakat nelayan kecil tidak terlalu lama menunggu giliran disentuh pembangunan. Menunggu, mungkin saat ini adalah keputusan yang paling bijak.

Ya, bangsa Indonesia memang patut menghargai dan bersyukur atas anugerah yang sangat besar, yaitu hidup dalam suatu negara kepulauan yang memiliki hamparan laut maha luas dari Merauke sampai Sabang. Negeri kita ini terletak pada posisi yang sangat strategis, yaitu pada persilangan dua benua dan dua samudera, serta memiliki wilayah laut yang kekayaan isinya sangat besar, sekaligus sebagai urat nadi perdagangan dunia.

Leluhur kita telah membuktikan, bahwa laut dapat membuatnya menjadi bangsa yang besar dan berpengaruh.

Nenek moyang kita pun telah menyadari potensi kelautan ini. Leluhur kita telah membuktikan, bahwa laut dapat membuatnya menjadi bangsa yang besar dan berpengaruh. Puncak kejayaan kerajaan maritim pun pernah dicapai. Sejarah memang menunjukkan, leluhur bangsa Indonesia memiliki pengaruh sangat dominan di wilayah Asia Tenggara, terutama melalui kekuatan maritim besar di bawah Kerajaan Sriwijaya dan kemudian Majapahit.

Wilayah laut Indonesia yang merupakan dua pertiga wilayah Nusantara mengakibatkan Nusantara diwarnai dengan berbagai pergumulan kehidupan di laut sejak masa lampau. Dalam catatan sejarah terekam bukti-bukti bahwa nenek moyang bangsa Indonesia menguasai lautan Nusantara, bahkan mampu mengarungi samudera luas hingga ke pesisir Madagaskar, Afrika Selatan.

Dengan sejarah itu, setidaknya telah membuktikan bahwa bangsa kita mencintai laut dan menjadi masyarakat bahari. Nenek moyang bangsa kita telah memahami dan menghayati arti dan kegunaan laut bagi dirinya. Mereka menemukan bahwa laut merupakan sumber kekayaan, energi, bahan makanan, dan sarana jaringan perdagangan.

Begitulah, laut memang merupakan alat penghubung, pemersatu bangsa, ruang hidup, ruang  dan alat juang. Namun sayang, bumi maritim dan jiwa sebagai masyarakat bahari lambat laun pupus setelah masuknya era kolonial. Sejak zaman itu, masyarakat di Nusantara dipaksa untuk mendekat dan fokus ke daratan, yang akhirnya membuat menurun jiwa baharinya.

Sampai hari ini, jiwa kemaritiman bangsa Indonesia boleh dikatakan telah meredup. Mata dan hati masyarakat secara umum tak lagi menoleh lebih dalam untuk bidang maritime dan bahari. Di samping itu, meski tak sedikit jumlah masyarakat Indonesia yang hidup di pesisir sebagai nelayan, namun kelompok masyarakat tersebut sampai kini masih masuk dalam kategori kelompok berpenghasilan rendah atau tergolong miskin.

Akibat dari berubahnya pola dari masyarakat maritim ke agraris, sumber daya sosial pada masyarakat maritim menjadi kurang tersentuh pembangunan.  Dengan potensi kelautan melimpah, namun sayangnya pemerintah maupun masyarakat Indonesia belum dapat memaksimalkan potensi tersebut.

Sekarang ini, kondisi nelayan Indonesia bagaikan kayu kering di atas sungai, hanya ikut kemana arus membawanya. Nelayan kecil tak memiliki kekuatan apapun selain menerima keadaanya. Apa yang laut telah sediakan dengan melimpah, tak mampu mereka ambil secara maksimal.

Berdasar Survei Sosial dan Ekonomi Nasional 2013 (Badan Pusat Statistik), nelayan di Indonesia diperkirakan sebanyak  2,17 juta. Sebagian besar tinggal tersebar di 3.216 desa yang terkategori sebagai desa nelayan.  Mereka tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Jawa Timur adalah provinsi dengan jumlah nelayan paling banyak, mencapai lebih dari 334.000 nelayan. Jumlah terbesar kedua adalah Jawa Tengah, sekitar 203.000 nelayan, dan Jawa Barat yang mencapai 183.000 nelayan. Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Aceh berturut-turut menjadi provinsi dengan jumlah nelayan terbanyak ke-4, ke-5, dan ke-6 di Indonesia. Jumlah nelayan paling sedikit ditemui di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Maluku Utara.

Jumlah nelayan paling sedikit ditemui di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Maluku Utara.

Nelayan di Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri kondisi sosialnya tampaknya tak jauh beda dengan yang lain. Menurut data statistic DIY tahun 2013, produksi perikanan laut di DIY hanya dihasilkan dari hasil penangkapan. Sementara produksi dari hasil budidaya perikanan laut masih sangat sedikit. Selama periode 2004-2012, produksi perikanan laut lebih berfluktuasi dan sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca dan iklim. Produksi perikanan laut mencapai puncaknya di tahun 2009 dengan total produksi sebesar 4.238 ton dengan rata-rata pertumbuhan produksi per tahunnya mencapai 17,67 persen.

Penurunan produktivitas perikanan laut di DIY secara umum dipengaruhi oleh kondisi iklim dan cuaca. Kondisi cuaca yang buruk menyebabkan gelombang laut selatan menjadi cukup tinggi, sehingga banyak nelayan yang terpaksa tidak melaut. Di samping itu, kurangnya sumber daya manusia yang terampil dan mumpuni serta mitos yang berlaku di masyarakat seputar penguasa laut selatan cukup membatasi produktivitas perikanan laut.

Berdasarkan data dari Dinas Perikanan dan Kelautan DIY, pemanfaatan potensi perikanan laut sampai saat ini masih sangat kecil, yaitu hanya sebesar 0,4 persen dari seluruh potensi yang ada. Sarana penangkapan ikan laut yang masih sangat terbatas baik dari sisi armada penangkapan maupun alat tangkap menyebabkan nelayan hanya dapat menangkap beberapa jenis ikan tertentu saja, seperti bawal, layur, kakap, tigawaja, pari, kembung dan lobster.

Begitulah kondisi nelayan Indonesia. Kondisi nelayan di DIY ini hanyalah sebagai contoh. Sedangkan, secara geografis wilayah Indonesia merupakan kawasan kepulauan yang menempatkan laut sebagai jembatan penghubung bukan sebagai pemisah. Dengan demikian, penguasaan terhadap laut merupakan suatu keharusan bagi penduduk yang menghuni pulau-pulau yang ada di Indonesia.

Dan tentunya, visi pemerintahan yang baru, yang fokus dalam bidang kemaritiman, tentunya merupakan harapan besar bagi rakyat kecil seperti para nelayan. Pastinya, tak ada nelayan yang tak ingin kehidupannya bergerak maju. Kesejahteraan memang merupakan harapan, pun demikian keberpihakan kepada nelayan kecil.

Teks: FA Herru, Della Yuanita;Foto: Budi Prast, Albert Taurino

 


Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *