Jejak Naga di Bumi Garuda

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Samasta Magazine. Sudah lebih dari satu dasawarsa masyarakat Indonesia semakin terbiasa dengan suasana menyambut dan merayakan tahun baru Imlek. Di saat itulah, kota-kota besar Indonesia bernuansa merah. Pusat-pusat perbelanjaan, hotel, dan juga restoran seperti berganti busana, menghiasi diri dengan nuansa merah.

Lampion serta simbol-simbol khas masyarakat Tionghoa terpajang di sepanjang kota. Karnaval dan atraksi budaya yang selalu menghadirkan barongsai dan liong, pun menjadi kegiatan rutin setiap merayakan Imlek. Perayaan tahun baru Imlek memang sekarang sama meriahnya dengan perayaan hari besar lainnya.

Lampion serta simbol-simbol khas masyarakat Tionghoa terpajang di sepanjang kota.

Inilah bukti masyarakat Tionghoa tak pernah lupa pada warisan budaya leluhurnya. Lalu yang menarik, seperti di Solo, beberapa kegiatan perayaan warga Tionghoa merangkul dan dilakukan dalam tradisi budaya Jawa. Masyarakat kota budaya itu yang keturunan Tionghoa merayakannya dalam tradisi grebeg. Ini jugalah bukti bahwa mereka benar-benar telah menyatu dengan tradisi budaya setempat, dan tak bisa lagi disebut sebagai sebuah “bangsa lain” di negeri ini.

Seperti yang kita tahu, bangsa Indonesia terdiri dari banyak etnis. Satu di antarnya adalah Tionghoa. Jadi apa yang kita kenal sebagai kebudayaan lokal masyarakat Indonesia sejatinya berasal dari setiap etnis tersebut. Dalam sejarah, bangsa Cina atau Tionghoa memiliki peran dalam mentransformasikan sejumlah tradisi budayanya yang kemudian melebur, dikembangkan, dan menjadi identitas masyarakat setempat.

Keberadaan orang Tionghoa di Indonesia sendiri memiliki sejarah yang amat panjang. Mereka datang dari negeri Tiongkok berabad-abad silam. Keberadaan mereka pun dapat dikatakan telah mewarnai separuh lebih perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dan, keberadaan mereka di setiap tempat juga menandakan betapa aktifnya mobilitas orang Tionghoa.

Keberadaan mereka pun dapat dikatakan telah mewarnai separuh lebih perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Kini, “sang naga” telah semakin terbuka menampakkan diri di bumi garuda ini. Telah banyak tradisi budayanya yang dirayakan secara terbuka dan menjadi bagian dari tradisi budaya bangsa Indonesia.

Mereka, etnis Tionghoa, mempunyai leluhur dengan tradisi yang kuat. Mereka juga orang-orang yang trampil dan berpengetahuan. Maka ketika orang-orang dari negeri Tiongkok ini sampai dan tinggal di Nusantara, pengetahuan mereka dalam bermacam hal pun, disengaja atau tidak, tertular juga pada masyarakat lainnya atau masyarakat yang disebut pribumi.

Di Pulau Jawa, orang-orang Tionghoa itu memang dikenal rajin dan trampil. Di Batavia misalnya, tiap tahun perahu-perahu Cina datang membawa warganya dalam jumlah yang cukup besar. Mereka pun membawa barang dagangan, seperti teh, sutera, porselin, dan sebagainya. Ya, di tanah yang baru diinjak itu, orang-orang Tionghoa dapat mencari nafkah dengan membuka toko-toko, pengolahan gula dan arak, warung-warung kopi, dan rumah-rumah makan. Mereka menjadi pendayung sampan di sepanjang sungai-sungai dan terusan-terusan, penjaja barang, juga membuka toko kelontong.

Di Pulau Jawa, orang-orang Tionghoa itu memang dikenal rajin dan trampil.

Selain berdagang, orang-orang Tionghoa memiliki pula keahlian dalam bidang pengobatan. Salah seorang ahlinya bernama Issae. Konon, dia digaji 10 real per bulan sebagai dokter dalam dinas Kompeni. Di samping menjadi pejabat, ahli pengobatan, Issae juga membuka usaha penyulingan arak. Demikian setitik informasi yang dipetik dari portal resmi Jakarta.

Sedangkan cerita dari catatan berbagai sumber, menyebut kedatangan orang-orang dari negeri naga itu bersejarah panjang. Sampai sekarang memang belum ditemukan sumber pasti kapan pertama kali orang Tionghoa mengenal dan bersentuhan dengan Nusantara. Di antaranya menyebut abad ke-5 atau ke-7, orang-orang Tionghoa mulai masuk Nusantara. Tapi ada juga yang menyebut, orang Tionghoa mengenal Nusantara sejak zaman sebelum Masehi melalui hubungan dalam jalur pelayaran.

Hal itu dibuktikan secara arkeologis dengan ditemukannya sebuah genderang perunggu berukuran besar di Sumatera Selatan yang termasuk dalam budaya Dangson, sebuah desa kecil di Provinsi Thanh Hoa, Teluk Tonkin, sebelah utara Vietnam pada masa antara tahun 600 SM sampai abad ke-3 Masehi. Berdasarkan kronik dan cerita dalam Dinasti Han, pada masa pemerintahan Kaisan Wang Ming atau Wang Mang ternyata Tiongkok telah mengenal Nusantara yang disebut Huang Tse.

Berdasarkan kronik dan cerita dalam Dinasti Han, pada masa pemerintahan Kaisan Wang Ming atau Wang Mang ternyata Tiongkok telah mengenal Nusantara yang disebut Huang Tse.

Setelah zaman Masehi, beberapa catatan dari Tiongkok menyebutkan tentang perjalanan beberapa tokoh agama Budha dari daratan Tiongkok ke India, dan singgah di berbagai tempat di Nusantara. Para pendeta ini menulis tentang daerah dan masyarakat yang mereka kunjungi. Mereka antara lain Fa Hsien yang singgah di sebuah daerah yang disebut Jawa pada tahun 413 M. Pendeta Budha Hwi Ning juga singgah di sebuah daerah yang disebut Holing atau Jawa utara pada tahun 664 M, dan Pendeta I Tsing singgah di Sriwijaya pada tahun 671 M.

Sejak itu, tampaknya kepulauan Nusantara mulai dikenal orang Tiongkok, khususnya para penguasanya. Beberapa peristiwa yang terjadi kemudian memberi tanda tentang adanya hubungan diplomatik antara beberapa kerajaan di Nusantara dengan penguasa daratan Tiongkok. Dikatakan bahwa mulai tahun 904, kerajaan Sriwijaya di pantai timur Sumatera mengirim utusan diplomatik dan dagang secara teratur ke Tiongkok. Pada sekitar tahun 1200 M, tercatat dalam kitab Chan Ju Kua tentang adanya dua kerajaan kuat di Nusantara, yaitu Sriwijaya di Sumatera dan Kediri di Jawa.

“Kedatangan bangsa Tiongkok ke Nusantara memang secara bergelombang atau dalam tahapan-tahapan. Tidak hanya dalam satu zaman,” ujar Drs. Arief Akhyat, MA, dosen Ilmu Sejarah UGM. Beberapa ahli memang mengelompokkannya dalam beberapa tahapan. Senada dengan Arif Akhyat, Victor Purcell dalam bukunya berjudul Chinese in Southeast Asia menuliskan bahwa migrasi bangsa Cina ke wilayah Nusantara terbagi dalam tiga tahapan. Tahap pertama pada masa kerajaan, tahap kedua masa kedatangan bangsa Eropa, dan ketiga masa kolonial Belanda.

“Kedatangan bangsa Tiongkok ke Nusantara memang secara bergelombang atau dalam tahapan-tahapan. Tidak hanya dalam satu zaman.”

Tahap pertama, pelayaran orang-orang Tionghoa untuk berdagang. Mereka datang sesuai dengan musim angin dan bermukim di sekitar pelabuhan dalam jangka waktu yang tidak lama. Jumlahnya pun tidak terlalu banyak, bahkan mereka belum terlihat membentuk satuan komunitas yang mapan. Namun ada pula yang mencatat, pada masa Airlangga telah ada koloni Tionghoa di Tuban, Gresik, Jepara, dan Lasem. Mereka telah diterima dan dapat hidup berdampingan dengan warga pribumi sekitar.

Tahap kedua terjadi saat bangsa Eropa datang ke wilayah Asia Tenggara pada abad 16. Kehadiran orang Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda membuat wilayah Asia Tenggara semakin ramai. Mereka menjadikan beberapa pelabuhan di kawasan itu sebagai pusat perdagangan. Hal inilah yang mendorong migrasi bangsa Cina semakin meningkat dan aktif dalam perdagangan. Ini juga yang memungkinkan orang-orang Tionghoa tersebut tinggal di wilayah Nusantara dalam jangka waktu lama.

Pemukiman Cina mulai banyak ditemukan di Nusantara ketika wilayah itu dikuasai Belanda. Inilah tahap ketiganya. Pemukiman tersebut terlihat di beberapa daerah, seperti di Kalimantan Barat, Pantai Timur Sumatera, dan sepanjang pesisir utara Jawa. Tahap ini menandai kedatangan bangsa Cina dalam jumlah yang besar.

Pemukiman Cina mulai banyak ditemukan di Nusantara ketika wilayah itu dikuasai Belanda.

Mereka tidak hanya didorong oleh kepentingan dagang, tapi juga kebutuhan ekonomi secara umum. Bahkan, Belanda sengaja mendatangkan mereka untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja bagi proyek pertambangan dan perkebunan. Begitulah sedikitnya sejarah perjalanan orang-orang dari tanah Tiongkok ke Nusantara. Ya, sejak awal abad pertama Masehi, interaksi antara orang Cina dengan masyarakat pribumi berlangsung selama berabad-abad. Unsur-unsur Cina melebur dengan unsur-unsur lainnya. Mereka hidup membaur dan membawa kebudayaan masing-masing.

Orang Tionghoa hidup dengan berdagang, bertani, dan menjadi tukang. Umumnya, mereka tidak membawa isteri dari Tiongkok. Mereka mengawini perempuan Jawa atau Melayu untuk dijadikan istri. Pada zaman itu, ada aturan perempuan dilarang pergi ke luar Tiongkok.

Sejarawan Prancis, Prof. Dr. Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya menyebut, asimilasi kebudayaan Cina dan kebudayaan-kebudayaan lain di Nusantara berlangsung sangat mulus dan alami. Jawa, sebelum masa kolonialisme Belanda, adalah ruang yang reseptif bagi terjadinya perjumpaan kebudayaan dari berbagai negeri.

Tahun 1800-an, orang-orang Tionghoa mulai masuk ke Yogyakarta. Umumnya mereka, banyak yang berasal dari Tiongkok Tenggara.

Tahun 1800-an, orang-orang Tionghoa mulai masuk ke Yogyakarta. Umumnya mereka, banyak yang berasal dari Tiongkok Tenggara, tinggal di daerah pesisir. Arus ekonomilah yang membawa mereka ke pesisir Yogyakarta dengan menggunakan junjung.

Dalam Kota Yogyakarta Tempo Doloe, Abdurachman Surjomiharjo menuliskan bahwa dipilihnya daerah pesisir bukan tanpa kebetulan. Belanda, yang pada waktu itu mengeksplorasi pertanian dan perkebunan, belum menjamah sektor perikanan Jogja. Hal ini yang membuat mereka menempati daerah pesisir untuk mengembangkan perekonomian perikanan.

Namun, Belanda yang bekerja dengan sistematik, yaitu mengelola pertanian, perkebunan, perhutanan, lalu baru kemudian pesisir menarik masyarakat Tiongoa ke daerah pedalaman. Tahun 1860, Belanda mulai mempekerjakan mereka sebagai buruh perkebunan.

Pada tahun tersebut tercatat jumlah penduduk Tiongoa di Pulau Jawa sebesar 150.000 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk Tionghoa di Jogja pada 1905 sebesar 4.200 jiwa dan meningkat menjadi 7.200 pada 1920.

Namun, Belanda yang bekerja dengan sistematik, yaitu mengelola pertanian, perkebunan, perhutanan, lalu baru kemudian pesisir menarik masyarakat Tiongoa ke daerah pedalaman.

Gempa tahun 1867 mengubah nasib penduduk Tionghoa di Yogyakarta. Banyak kerabat keraton dan Belanda yang kehilangan rumah dan harta membuat mereka menjadi penduduk kaya yang melebihi kerabat kerajaan dan Belanda. Sebab, selain rajin menabung, jumlah korban dan kerugian harta mereka sedikit.

Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1920), etnis Tionghoa di Yogyakarta mulai diakui yaitu dengan berdirinya kawasan pemukiman orang-orang Tionghoa, Ketandan. Karena orang-orang Tionghoa memang telah menjadi pelaku utama penggerak perekonomian Yogyakarta, selain etnis Arab dan pribumi. Berawal dari hal tersebut, dapat diketahui etnis Tionghoa memegang peran penting dalam perkembangan sejarah dan kebudyaan Yogyakarta yang berakar tradisi budaya Jawa yang sangat kuat.

Teks: FA Herru, Della Yuanita;Foto: Budi Prast, Albert Taurino


Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

4 Comments

  1. Benar sekali, walaupun kita beda agama kita juga suka dengan perayaan orang tionghoa

    1. Hi Heni, terima kasih atas komentarnya…
      Kami suka komentar anda dan Tionghoa dan segala macam kebudayaannya sudah menjadi kebudayaan asli Indonesia

  2. Kren yaaa, semoga budaya” lokal tetap utuh keasliannya tanpa terpengaruh dengan budaya lain.. dn budya tionghoa ini juga dapat memberikan dampak yg positive bagi masyarakat yg menikmatinyaa😊

    1. Hai Rizka, budaya Tionghoa itu sesungguhnya melengkapi budaya asli Indonesia
      makanya suka heran sama kelompok/orang yang berusaha membenturkan budaya ini
      sama-sama indah, sama-sama memperkaya Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *