Sisa Sejarah Sargedhe

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Samasta Magazine. Pasar tradisional tak akan pernah lekang oleh waktu, bukan hanya sebagai poros utama perekonomian negara ini namun juga berkumpulnya berbagai macam generasi dan latar belakang. Serbuan tempat belanja yang lebih bersih dan terang belum mampu menggoyahkan mahkota pasar tradisional yang telah ditahbiskan berabad-abad yang lalu.

Yogyakarta sendiri seakan tak pernah lelah memberikan nostalgia buat kita. Salah satu nya adalah Pasar Legi Kotagede. Pasar ini awalnya bernama “Pasar Gede” atau Sargede. Pasar ini didirikan oleh Panembahan Senopati saat awal berdirinya Mataram Islam. Dan tidak hanya bangunan pasar saja, tidak hanya pedagang yang saling beradu harga, namun pasar ini adalah pengingat romantisme kita terhadap sejarah panjang Yogyakarta.

Dan tidak hanya bangunan pasar saja, tidak hanya pedagang yang saling beradu harga, namun pasar ini adalah pengingat romantisme kita terhadap sejarah panjang Yogyakarta.

Pasar ini disebut Pasar Legi karena dulunya hanya “beraktifitas” saat pasaran (penanggalan jawa) Legi saja. Namun dalam perkembangan nya akhirnya pasar ini pun hidup setiap hari. Sebelum masuk pasar sempatkanlah berjalan-jalan disekitar, dan percayalah anda akan menemukan sisa kemegahan pasar utama kerajaan Yogyakarta.

Di timur pasar terdapat monumen Jumenengan (naik tahta) Sri Sultan HB IX yang biasa disebut Pacak Suji. Pembangunan monumen ini adalah wujud rasa hormat dan suka cita masyarakat Kotagede terhadap Sang Raja. Di sisi sebelah barat anda akan menemukan bangunan cukup besar, masyarakat sekitar menyebutnya Babon Aniem.

Babon berasal dari kata “induk” untuk ayam betina. Aniem adalah nama perusahaan listrik Belanda, NV Aniem yang beroperasi sejak medium 1900an. Lebih kebarat anda akan menemukan monumen kecil, yang diatasnya ada sebuah penunjuk waktu. Tugu Ngejaman namanya, ini adalah pemberian atau hadiah Kasunanan Surakarta, sayangnya tugu ini sedikit tidak terurus, dan posisinya pun terhimpit oleh bangunan toko.

Tugu Ngejaman namanya, ini adalah pemberian atau hadiah Kasunanan Surakarta, sayangnya tugu ini sedikit tidak terurus, dan posisinya pun terhimpit oleh bangunan toko.

Puas menikmati sejarah, rasanya tak lengkap jika tak masuk kedalam. Bunyi peluit tukang parkir beradu dengan suara tawar menawar seakan lazim disini. Belum lagi sebuah bau khas pasar tradisional, bau ikan asin akan “head to head” dengan bau daging. Tapi jangan khawatir, pasar ini cukup bersih untuk berbelanja.

Wajah-wajah ramah akan selalu menyambut, seakan tak pernah lelah untuk mengajak kita mampir ke kiosnya. Seperti layaknya pasar, disini anda bisa menemukan apapun. Tak hanya itu, Pasar Gede adalah pusat jajanan pasar terlengkap di Yogyakarta.

Tak sadar, matahari sudah beberapa inchi dari panjang tombak, saatnya penjual burung membongkar kotak-kotak rahasia mereka. Berbagai macam burung kicau, aduan, atau sekedar untuk teman dirumah ada disini. Tak hanya warna dan jenis nya, harga nya pun beragam. Jangan sungkan untuk duduk sebentar disini, meskipun ramai anda pasti menyukainya.

Jangan sungkan untuk duduk sebentar disini, meskipun ramai anda pasti menyukainya.

Setelah lelah berkeliling nikmatilah soto daging yang cukup legendaris, posisi nya di sudut timur pasar, belakang Pacak Suji. Warung sederhana ini selalu ramai dengan antrian yang mengular, namun semua itu akan terbayar dengan rasa soto yang khas. Setelah puas berbelanja, jangan segera pulang. Berjalanlah sedikit ke selatan. Terdapat komplek Makam Raja Kotagede serta Masjid Agung Kotagede.

Masuk dan jangan lupa berdoa, serta “ngenger manah” disana. Siapa tahu mungkin dari Kotagede kita pulang dengan hati yang tenang serta perut yang kenyang.

Teks&Foto: Arif Tedja


Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

3 Comments

  1. Sangat saya sekali bangunan sejarah harus terhimpit oleh pasar, padahal itu adalah bangunan lama yang bersejarah.

    1. Sampai saat ini PAsar Sargedhe adalah salah satu pasar dengan sejarah yang panjang

  2. suasana dan tempat nya masi sejuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *