Serunya Susur Sungai di Plosokuning

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Samasta Magazine. Desa yang biasanya hening dan sunyi, pecah dengan hadirnya rombongan mahasiswa sebuah kampus swasta ternama di Yogyakarta. Ya, mereka berkunjung ke Desa Wisata Plosokuning dengan sejuta penasaran. Raut muka ceria diselingi tawa kegembiraan membuat desa yang sehari-hari sepi, menjadi riuh. Kedatangan 60-an mahasiswa ke Plosokuning, Bangunkerto, Kecamatan Turi, Sleman, Yogyakarta untuk membunuh rasa penasaran, sekaligus menikmati suasana pedesaan yang masih nyaman dengan udara yang bersih. Mereka datang untuk menjawab tantangan berpetualang susur sungai di desa tersebut.

Susur sungai? Memang, ada di desa tersebut? Seperti apa sih susur sungai yang ditawarkan? Tentu pertanyaan ini juga akan timbul di benak pembaca. Tawaran berwisata susur sungai saja merupakan hal yang asing di telinga kebanyakan orang. Di sinilah keunggulan yang ditawarkan dan menjadi daya tarik utama Desa Wisata Plosokuning.

Sebelum melakukan susur sungai, tentu saja yang berminat wajib menghubungi pengelolanya. Kebetulan, pengelolaan dipegang pihak karang taruna desa tersebut. Merekalah yang menemukan dan membersihkan jalur sungai yang bening dan bersih tersebut, kemudian menawarkan menjadi paket wisata minat khusus.

Sembari mendapat penjelasan mengenai Desa wisata Plosokuning, mereka yang akan melakukan susur sungai, wajib melakukan pemanasan untuk meregangkan otot-otot yang kaku.  Mereka akan bersama-sama melakukan susur sungai. Adapun nama sungai yang akan disusuri, oleh masyarakat setempat dinamai Kali Nyo. Kali sendiri, merupakan bahasa Jawa yang berarti Sungai. Nama Kali (Sungai) Nyo yang singkat dan belum setenar sungai sungai yang berhulu di Gunung Merapi, seperti Kali Kuning atau Kali Code.

Sungai tersebut boleh dibilang tidak terlalu besar. Lebar sungai kurang lebih 3 meter saja. Meski kategori sungai kecil, saat musim kemarau panjang, aliran air Kali Nyo tetap lumayan banyak. Sehari-hari, sungai tersebut juga dimanfaatkan oleh warga untuk mengaliri sawah, kolam dan lainnya.

“Iseng-iseng buka di IG, ada susur sungai di Desa Wisata Plosokuning ini. Terus diskusi sama temen-temen, eh kok semua sepakat mencobanya. Jadilah kami di sini (Plosokuning, red) dan mencoba tawaran susur sungai,” ungkap Dita, salah satu peserta, di sela persiapan susur sungai.

Setelah melakukan pemanasan sebentar, peserta diajak berjalan menuju Kali Nyo. Dalam perjalanan menuju ke sungai, peserta dimanjakan dengan hamparan perkebunan salak yang begitu luas yang ada di pekarangan dan kebun warga. Sayangnya, bulan Oktober bukanlah saatnya musim panen buah salak. Saat itu, buah khas Sleman tersebut masih terlalu kecil-kecil. Jadi, belum bisa dibawa sebagai buah tangan untuk keluarga dan teman-teman di rumah.

Begitu sampai di tepi sungai, peserta merasakan udara dingin yang terasa menyeruak. Terlebih saat anggota badan menyentuh air, seketika badan merinding sekejap. Semua itu hanya  sesaat untuk penyesuaian. Nantinya, pasti akan terbiasa. Sungai memang tidak terlalu dalam, namun merasakan kenikmatan susur sungai secara maksimal, peserta wajib basah. Belum lengkap rasanya bila tidak basah seluruh badan. Tentu saja ada kekhawatiran bagi mereka yang membawa kamera atau ponsel. Karenanya, pengelola sudah menyiapkan solusinya. Peserta bisa menitipkan ke pemandu semua peralatan rekam gambar dan suara milik peserta.

Sebelum ditawarkan kepada calon wisatawan, pengelola sudah melakukan uji coba dengan melakukan susur sungai tersebut. Mereka juga melakukan pembersihan rute tersebut secara berkala. Mereka juga menyisir kawasan tersebut untuk mensterilkan area. Harapannya, para peserta bisa menikmati dengan aman dan nyaman selama dalam perjalanan. Pengelola tentu tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diharapkan pada peserta.

Waktu yang dibutuhkan untuk susur sungai sekitar satu jam. Perjalanan dimulai dengan melintas rute di bawah aneka tebing yang indah. Oleh pemandu, tebing tersebut dinamai “Tebing Lumut” dan “Tebing Selimut Rumput”.

Sejak awal perjalanan , semua peserta terlihat menikmatinya. Tracking yang disediakan oleh pengelola memang berbeda. Rute susur sungai yang disiapkan bukan mengikuti aliran air sungai, namun melawan arus sungai. Memang wisata susur sungai dikemas unik, yakni melawan arus dari bawah ke atas. Jadi, bukan seperti rafting yang mengikuti arus aliran sungai dari hulu ke hilir. Dengan begitu, cara unik tersebut bisa menjadikan pengalaman yang berbeda bagi semua peserta.

Di tengah perjalanan susur sungai, ada tempat yang dibuat berbeda. Peserta harus memanjat tangga bambu dengan ketinggian 7 meter, di mana tempatnya sejajar dengan air terjun. Tentu momen special ini dimanfaatkan peserta dengan mengabadikan dengan kamera atau ponsel. Selanjutnya bisa diduga, usai berswafoto, mereka akan memamerkan di media sosial miliknya. Mereka berfoto dengan tempat yang alami, indah, berlatar belakang jurang dan tebing di bawahnya.

Oleh pengelola tempat ini dibuat agak luas. Para peserta bisa beristirahat sejenak,   sembari basah-basahan bermain air. Pengelola menyediakan dua ayunan tradisional dengan alas balok kayu yang diikat dengan tali tambang, sehingga bisa dimanfaatkan untuk bersantai ria oleh peserta susur sungai.

Perjalanan masih panjang. Berikutnya, peserta diajak melintas di atas sebatang pohon bambu yang dipasang di atas air sungai untuk melatih keseimbangan badan. Karena tidak terbiasa, banyak yang terpeleset dan jatuh ke air yang menggenang. Baik yang berhasil atau tidak melintas, semua senang. Bagi mereka yang jatuh, jadi bahan ketawaan peserta lain yang bisa melewatinya. Bahkan, saat ada temannya yang jatuh, justru malah ‘dikeroyok’ beramai-ramai  menggunakan air.

“Menyenangkan dan membuat kita tertawa gembira. Tidak ada yang bersedih, semua senang. Meski tidak berhasil melewatinya ‘diciprati’ dengan air oleh teman-teman, tetap bisa ngekek tanpa henti-henti,” papar Dita tertawa kencang sembari memegang perutnya.

Berikutnya, di tengah perjalanan, para peserta akan melewati sebuah mata air (sumber mata air) atau penduduk setempat menyebutnya belik. Masyarakat setempat menamai sumur sumber air tersebut dengan nama Belik Adem Panas. Konon, nama itu diambil dari kebiasan warga, saat terkena demam tinggi, mereka lalu mandi di belik  tersebut, dan cepat sembuh. Belik tersebut dilindungi dengan atap genting terbuat dari tanah liat, ditopang dua tiang bambu yang menempel persis di dinding tebing sungai. Menurut sesepuh desa yang sudah menunggu rombongan di lokasi tersebut, Belik Adem Panas itu memiliki sejarah yang menarik.

Di tengah mengikuti cerita sesepuh desa, sebagian peserta tertarik melakukan “Ritual Jamasan,” yakni mandi air dari Belik Adem Panas itu. Caranya, mereka diguyur air dari belik pada kepalanya hingga sekujur badan menggunakan gayung yang terbuat dari batok kelapa. Oleh sesepuh desa, sebelum diguyur, peserta yang ingin melakukan ritual diminta memanjatkan doa dan keinginannya terlebih dahulu. Harapannya, semua doa dan keinginannya bisa terkabulkan. Pesan dari sesepuh desa yang memimpin ritual jamasan, semua doa dan keinginan yang dimintakan haruslah hal yang baik-baik, dan dilarang berdoa dan meminta keinginan yang negatif atau hal buruk.

Sembari mendengarkan cerita legenda soal Belik Adem Panas oleh sesepuh desa, alangkah menyenangkan bila pengelola menyiapkan makanan (makanan ringan, kudapan) dan minuman tradisional khas desa tersebut. Bagi peserta yang tengah kehausan dan sedikit lapar, bisa terobati, sekaligu mendapatkan kejutan menyenangkan.

Usai melakukan ritual jamasan, para peserta melanjutkan perjalanan dan singgah di sebuah tempat sembari melihat Gua Belanda. Gua tersebut juga memiliki nilai sejarah masa lalu. Menurut pemandu, konon gua tersebut menjadi tempat persembunyian warga dari Tentara Belanda. Oleh masyarakat setempat, gua dinamai Gua Belanda. Sayangnya, tempat itu kurang terawat. Karena terlalu lama, kondisinya sekilas terlihat seperti tebing. Apalagi mulut gua tertutup lumpur.

Kondisi itu membuat peserta kurang berminat melihat ke dalam dan berlama-lama di tempat itu. Bisa jadi, seandainya guanya dibersihkan dan lumpur diangkat dari mulut gua, akan menjadi nilai tambah bagi peserta atau pengunjung. Untuk melihat tempat tersebut, peserta harus naik ke daratan dengan jarak lebih kurang 10 meter dari sungai. Pengelola menyadari hal tersebut dan ke depan akan membuat gua tersebut lebih bersih dan menarik.

Peserta masih bersemangat. Dari raut wajahnya, meski terlihat letih, ada keinginan meng-eksplore tempat tersebut lebih banyak. Selain itu, mereka tidak henti-henti mengabadikan momen berharga di tempat itu. mereka memanfaatkan alam sekitar untuk berfoto ria. Apalagi, pengelola menambahkan beberapa titik spot foto tambahan. Peserta bergantian berfoto dengan properti yang tersedia. Ada yang berbentuk bingkai dari bambu yang lumayan besar dan berbagai macam botol bekas air mineral yang dihias dengan cat warna-warni yang ditata bergelantungan di atas sungai.

Tidak terasa, titik akhir perjalanan sudah dekat. Itu terdengar dari gemercik suara air mancur yang keluar dari pipa paralon dengan lubang pipa yang begitu banyak. Berada persis di bawah bendungan sungai, pipa yang berada di pinggir kanan dan kiri sungai tersebut menyemburkan air secara berirama. Saking banyaknya air yang keluar dari pipa, sehingga membentuk seperti lorong dengan jalan berupa ‘jembatan goyang’ yang menarik dijadikan spot foto sebelum naik ke atas bendungan.

Peserta belum mereasa puas. Mereka terlihat malas beranjak dari tempat tersebut. Mereka ingin berlama-lama dan bermain-main di ‘jembatan goyang’. Keseruan semakin membuncah. Terlihat saat beberapa peserta yang melintas  di atas jembatan dan diganggu peserta lain, agar terjatuh ke air. Sebagian peserta bersemangat mengganggu saat ada temannya yang mencoba menyeberang ‘jembatan goyang’. Apalagi yang mencoba menyebrang berteriak tidak diganggu, semakin bersemangat temannya mengganggu. Mereka ‘menyerang’ teman yang melintas ‘jembatan goyang’ dengan air sungai, agar konsentrasinya buyar dan terjatuh disungai.

Akhir dari perjalanan susur sungai adalah Kedung Kuning. Untuk menyeberang ke ujung kedung tersebut, bisa dua cara. Mereka yang bisa berenang, tentu akan memanfaatkan kesempatan dengan menyebaranginya sembari berenang sepuasnya di kedung tersebut. Bagi yang tidak bisa berenang, pengelola menyiapkan Perahu Getek. Perahu ini dibuat dari bambu dan bisa dinaiki 10 orang. Untuk menjalankan, ada satu orang yang menggerakkan perahu getek dengan menarik tali tambang. Otomatis, para peserta  tidak perlu repot-repot mendayungnya. Tinggal duduk santai, atau ikut membantu menarik tali tambang tersebut.

Yang patut diperhatikan, Kedung Kuning tersebut bisa menjadi daya pikat tersendiri. Terutama mereka para wisatawan yang tidak ingin berbasah ria menyusuri sungai. Mereka yang ingin sekadar bermain-main air, mandi, atau berenang, bisa langsung ke lokasi ini. Pengelola tentu bisa menjadikan tempat ini sebagai tujuan lain, selain susur sungai. Istilahnya, alternatif wisata bagi  yang tidak ingin susur sungai. Tempat ini sebenarnya sangat eksotik. Hanya pengelolanya belum dimaksimalkan menjadi obyek wisata tersendiri. Bisa jadi karena pengelola terlalu terburu-buru dalam pembangunan atau keterbatasan biaya,sehingga tempat ini terlihat biasa saja. Dari kejauhan, terlihat mirip kolam atau danau kecil yang kosong seperti kolam ikan bukan tempat untuk berwisata bermain air.

Bila Kedung Kuning dipoles wajahnya agar terlihat lebih menarik dan indah, nantinya pengunjung akan membantu mempromosikan melalu media sosial. Kalau sudah Viral, wisatawan akan datang dengan sendirinya, karena penasaran dengan lokasi yang dianggap baru. Tidak harus moderen,namun bagaimana tempat tersebut bisa diminati karena kelebihan lain, semisal pemandangan yang indah, tempatnya yang alami, segarnya hawa pegunungan, dan lainnya.

Untuk masukan, taman bisa dipercantik lagi dengan disain kekinian yang bisa menjadi spot foto. Sebagai tambahan, bisa dibuatkan kolam khusus anak-anak, yang didisain terpisah dari kolam utama, sehingga menjadi pilihan liburan bagi keluarga. Harapannya, langkah tersebut juga bisa menggerakkan roda ekonomi yang cepat dengan basis pariwisata.

Selain susur sungai, calon pengunjung ke tempat ini juga bisa belajar dan bermain. Pengelola sudah menyiapkan paket paket wisata jelajah kampung, budidaya salak, edukasi seru, outbond, menangkap ikan, dan lainnya.

Teks&Foto: Budi Prast


Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *