Samasta-Magazine-Pesanggrahan-Rumah-Kotabaru-IMG_4705

Jejak Kolonial di Roemah Kotabaroe

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sepanjang kawasan Kotabaru, Yogyakarta, mata kita seolah termanjakan dengan deretan bangunan berarsitektur Belanda. Gaya bangunan yang populer dengan sebutan indies itu memang tak lepas dari sejarah. Berada di timur Sungai Code, kawasan yang dulunya bernama Nieuwe Wijk ini merupakan pemukiman orang Eropa yang tinggal dan bekerja di Yogyakarta. Kawasan ini dirancang pada tahun 1917 – 1920, dibangun atas izin Sultan yang diatur dalam Rijksbland van Sultanaat Djogjakarta No. 12 tahun 1917. Karena dirancang sebagai sebuah kota taman yang berbentuk radial, maka para arsitek, arkeolog maupun sejarawan menyebutnya sebagai kawasan Kotabaru.

Samasta-Magazine-Pesanggrahan-Rumah-Kotabaru-Kamar-Pribadi_Budi-Prast

Kawasan Kotabaru kini mengalami perubahan, meski banyak bangunan yang masih megah berdiri, namun kebanyakan telah beralih fungsi menjadi sekolah, pertokoan dan gedung perkantoran. Di antara deretan rumah-rumah besar peninggalan Belanda tersebut, ada satu bangunan yang berhasil menarik perhatian. Dari luar, latar keanggunan dan kecantikannya menandakan bangunan ini sangat terawat. Inilah rumah tinggal milik pasangan Moetaryanto Poerwoaminoto AO, Konsul Kehormatan Republik Tunisia untuk Indonesia di Yogyakarta dan Uti Suyanti.

Inilah rumah tinggal milik pasangan Moetaryanto Poerwoaminoto AO, Konsul Kehormatan Republik Tunisia untuk Indonesia di Yogyakarta dan Uti Suyanti. 

Bangunan yang berdiri sejak tahun 1917 ini diapit oleh dua jalan, yaitu sisi timur, Jl. I. Dewa Nyoman Oka dan sisi utara Jl. Lawu. Pemilik rumah pertama adalah seorang anggota pemerintah Belanda. Setelah mengalami beberapa kali pemindahan kepemilikan, tahun 2012 akhir, tanah dan bangunan rumah tersebut berpindah kepemilikannya kepada Moetaryanto dan difungsikan sebagai rumah dan kantor pribadi.

Samasta-Magazine-Pesanggrahan-Rumah-Kotabaru-Kamar-Tamu_Budi-Prats

“Saya membeli rumah ini 3 tahun silam. Pertama kali mata memandang, saya jatuh cinta dengan tegel Koentji-nya dan semua elemennya yang masih asli dan berkualitas tinggi. Melihat kondisi rumah yang sebelumnya kurang terawat, maka kami pun melakukan renovasi tanpa merubah bentuk fisik aslinya,” jelas Moetaryanto kepada Samasta beberapa waktu lalu.

Menurut Moetaryanto, niat dan tekad memiliki rumah di kawasan cagar budaya (KCB) Kotabaru adalah mutlak keinginannya dalam berpartisipasi melestarikan bangunan warisan budaya.

Sebagai pemilik baru, Moetaryanto memang sangat serius dalam merenovasi bangunan yang berusia hampir seabad ini. apalagi mengingat rumah ini berada di kawasan cagar budaya, tentu membutuhkan kejelian dalam merenovasinya hingga cantik kembali. Menurut Moetaryanto, niat dan tekad memiliki rumah di kawasan cagar budaya (KCB) Kotabaru adalah mutlak keinginannya dalam berpartisipasi melestarikan bangunan warisan budaya.

Samasta-Magazine-Pesanggrahan-Rumah-Kotabaru-Ruang-Kerja-Pribadi_Budi-Prast

Di tangan arsitek Nyoman Popo Priyatna Danes, rumah ini pun kembali memiliki aura positif. Tanpa merusak bangunan aslinya, Popo Danes sepakat dengan Moetaryanto untuk memegang teguh petunjuk dari dua buku suci Pendataan Kawasan Kotabaru dan Himpunan Peraturan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta tentang Warisan Budaya dan Cagar Budaya.

“Saya ingin membarukan Kotabaru dalam bingkai pelestarian warisan cagar budaya. Oleh karena itu, saya meminta Popo Danes untuk mengembalikan 100 persen visualisasi fisik persis dengan dokumen rumah cagar budaya ini,” terangnya.

Samasta-Magazine-Pesanggrahan-Rumah-Kotabaru-Ruang-tengah_Budi-Prast

Popo Danes sendiri merupakan seorang arsitek asal Bali yang memiliki nama besar di dunia arsitektur tropis, budaya, ramah lingkungan dan seorang enviromentalist. Moetaryanto menjelaskan memang diperlukan kesabaran, ketekunan dan cinta untuk merenovasi rumah yang berdiri di atas lahan seluas 1.168 meter persegi  dengan luas bangunan 666,25 meter persegi itu. renovasi besar-besaran itu tak bisa dikerjakan dalam sistem kejar tayang. Karena setiap tahap revitalisasi harus sesuai dengan dokumen aslinya. Hal inilah yang menguji kesabaran dan komitmen Moetaryanto dan sang istri, Uti, pada saat proses renovasi dan revitalisasi berjalan.

Samasta-Magazine-Pesanggrahan-Rumah-Kotabaru-Teras--Belakang_Budi-Prast

Dua tahun berselang, rumah ini pun menjadi apik dan cantik. Moetaryanto menyebutnya sebagai Bangunan Rumah Indis, Bangunan Oka 7 atau Roemah Kotabaroe. Kini lihatlah, betapa indah dan asrinya rumah ini. semuanya serba rapi dan terawat. Secara fisik bangunan, Roemah Kotabaroe memiliki ciri khas bangunan tinggi dan besar dengan dinding sisik ikan berwarna hitam dan putih. Rumah ini pun memiliki halaman yang luas, jendela dan pintu yang lebar dan besar dengan langit-langit yang tinggi.

Samasta-Magazine-Pesanggrahan-Rumah-Kotabaru-Sudut-ruanga-Tengah_Budi-Prast

“Lantai tegel asli yang dulu kusam kini mengkilat. Anda bisa menjumpainya di ruang depan, begitu masuk dari pintu utama menghadap ke timur. Di rumah ini, kami berdua memadukan nuansa Indies dengan sentuhan klasik Jawa, China dan karya seni sebagai pemanisnya,” papar Moetaryanto sembari mengajak Samasta berkeliling.

Berkeliling di rumah ini ibarat melihat koleksi museum yang tak ternilai harganya. Interior khas bangunan Indies tampak hidup dengan hiasan meja kaca besar berbingkai ukiran Jawa. 

Selain dikenal sebagai pebisnis, sosok Moetaryanto memang dikenal sebagai pencinta seni, khususnya lukisan. Tak heran jika Roemah Kotabaroe juga memiliki beberapa koleksi karya lukis karya seniman-seniman besar tanah air, salah satunya lukisan berjudul Gadis Jogja yang klasik. Berkeliling di rumah ini ibarat melihat koleksi museum yang tak ternilai harganya. Interior khas bangunan Indies tampak hidup dengan hiasan meja kaca besar berbingkai ukiran Jawa. Ada pula sepasang patung kayu Loroblonyo yang anggun sebagai pajangan.

Samasta-Magazine-Pesanggrahan-Rumah-Kotabaru-Sudut-ruang-depan_Budi-Prast

Moetaryanto lantas mengajak Samasta ke ruang kerjanya. Sebuah ruangan yang menyatu dengan beranda yang kini menjadi ruang baca dan bersantai di sore hari. Ruangan ini menjadi favorit sang istri. Kursi malas dengan aneka bantal berwarna kontras dengan pemandangan tanaman hias, hamparan rumput hijau dan bunga sulur Air Mata Pengantin yang merambat menjadi pelepas lelah keduanya.

“Istri saya, Ibu Uti merupakan cicit dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Itulah alasan mengapa kami sengaja menaruh furniture klasik di bawah lukisan eyang buyut disini.”

“Kami memberi sentuhan China pada ruang baca ini dengan meletakkan pintu kokoh dari kayu yang berhiaskan huruf China, lengkap dengan furniture dan elemen berwarna merah. Istri saya, Ibu Uti merupakan cicit dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Itulah alasan mengapa kami sengaja menaruh furniture klasik di bawah lukisan eyang buyut disini,” paparnya sambil memperlihatkan sebuah lukisan yang berada di atas foto pernikahan pasangan ini yang diapit oleh Sri Sultan HB IX dan BRAy Nindyokirono.

Samasta-Magazine-Pesanggrahan-Rumah-Kotabaru-Teras_Budi-Prast

Moetaryanto mengatakan, sang istrilah yang mengatur interior dan furniture di rumah ini. Uti rupanya menyukai nuansa putih yang anggun dan klasik. Selain menata ruang keluarga dengan dua set sofa berukuran besar, Uti juga banyak menaruh tumbuhan asli di beberapa sudut ruangan. Ruang keluarga ini pun tampak hangat dan sangat terasa ada sentuhan feminine dalam penataannya.

Samasta-Magazine-Pesanggrahan-Rumah-Kotabaru-Moetaryanto-saat-menerima-Penghargaan-Budaya_Budi-PrastBeralih ke teras belakang, inilah ruang yang paling asyik untuk bersantai. Menghadap taman belakang yang asri, sangat tampak jika aktivitas keluarga Moetaryanto dan Uti banyak berlangsung di sini. Tampak satu set sofa di tengah lengkap dengan mejanya. Di ujung selatan terdapat dapur berkonsep open kitchen dengan satu set meja makan untuk delapan orang. “Selain sebagai ruang berkumpul dan ngobrol santai dengan keluarga, kami juga sering mengundang para kolega dan relasi untuk sekadar bersantap malam di sini. Di sinilah kami bisa lebih membangun keakraban dan keharmonisan baik dengan keluarga maupun relasi,” ujarnya.

Kini, rumah lawas bergaya kolonial yang diapit 3 bangunan ikonik yakni Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Susteran Amal Kasih Darah Mulia dan Masjid Syuhada ini telah berdiri kokoh dan megah. 

Ketelatenan Moetaryanto dalam upaya melestarikan bangunan cagar budaya pun berbuah manis. Baru-baru ini dirinya mendapatkan Penghargaan Bagi Pelestari dan Penggiat Budaya kategori Pelestari Warisan Budaya dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai representasi Pemda DIY. Kini, rumah lawas bergaya kolonial yang diapit 3 bangunan ikonik yakni Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Susteran Amal Kasih Darah Mulia dan Masjid Syuhada ini telah berdiri kokoh dan megah. Berada di tangan yang penuh kasih, Roemah Kotabaroe kian apik, cantik dan menawan.

 

Teks: Della Yuanita; Foto: Budi Prast


Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *